EURO 2016: Melihat Jerman Yang Sesungguhnya

Posted by

PERAWANGPOS, PARIS - Banyak pengamat yang mengatakan, penampilan Jerman di Euro 2016 tidak menggambarkan tim penyandang gelar juara dunia 2014. Dasarnya karena mereka hanya melihat dalam kaca mata yang sederhana, bahwa tiga laga Jerman di Grup C terbilang tanpa greget, terlepas pasukan asuhan Joachim Low itu mampu menjadi juara grup. Apakah hanya segampang itu menakar performa Jerman yang terkenal sebagai tim spesialis turnamen?

Saya juga termasuk orang yang agak pesimistis untuk menempatkan Jerman sebagai calon juara di perhelatan Euro 2016. Secara jujur, Jerman hadir ke Prancis dengan kondisi yang memang tidak baik. Banyaknya pemain yang cedera menjadi salah satu kendala yang dihadapi Low. Mundurnya Miroslav Klose juga memberikan pekerjaan rumah tersendiri, karena sampai menyelesaikan tiga pertandingan di Grup C Jerman terasa mandul. Satu-satunya ujung tombak yang ada dan terbilang memasuki usia senja, Mario Gomez, baru mencetak sebiji gol saat melawan Irlandia Utara.

Namun, bukan Jerman namanya jika tak pernah dililit masalah. Dari tahun ke tahun Jerman menghadapi banyak tantangan, tetapi kemudian mereka bisa keluar dari tantangan itu dan menunjukkan kelasnya sebagai tim kelas dunia dengan gaya bermain khas mereka:attacking football yang menyengat dengan penguasaan bola sempurna. Ketika banyak orang mencibir Jerman, termasuk pers dan media di Jerman sendiri, bahwa pemain Jerman tak punya nyali besar untuk bertarung satu lawan satu, kemudian melewati pemain belakang dan mencetak gol, saya justru tak sependapat dengan kritik tersebut. Justru saya selalu melihat, dari satu fase ke fase berikutnya Jerman mengalami peningkatan fisik serta mental yang berbeda.

Penampilan Jerman jauh lebih baik saat melawan Irlandia Utara, dibanding memukul Ukraina, dan bermain imbang dengan Polandia. Artinya, di fase yang ketiga, mereka mulai mendapatkan ritmenya walau membuang seabrek peluang setelah melepaskan 26 tembakan dan hanya membuahkan satu gol. Bukan satu gol itu yang perlu diperbincangkan, tapi bagaimana rasa percaya semua pemain di lapangan untuk menguasai bola. Praktis, itu memaksa lawannya ''ketakutan'' sepanjang laga sehingga berkonsentrasi penuh di garis belakang. Low juga berani memainkan Mario Gomez sejak awal. Bukan cuma itu, Joshua Kimmich, anak muda dari Bayern Munich, dipercayakan bermain dari awal di sisi kanan untuk pertama kalinya, Low dengan berani membangkucadangkan pemain yang lebih senior seperti Benedikt Howedes.

Tim ini memang unik dan luar biasa. Banyak yang mengkritik mereka di kualifikasi Euro 2016 keika mengalami kekalahan dari Polandia dan Republik Irlandia. Faktanya, Jerman tetap menjadi juara grup, bukan Polandia dan Irlandia yang tampil menawan sepanjang kualifikasi. Jerman bermain dengan sangat lambat dan seperti bukan tim peraih juara dunia, tetapi mereka kemudian menduduki urutan pertama untuk meraih tiket ke Prancis. 

Hal yang sama saat Jerman melakoni beberapa laga uji coba. Jerman disikat Prancis, Inggris, dan Slowakia. Orang lalu mempertanyakan tim ini dan meragukannya. Faktanya, Jerman kembali menjadi juara grup C ketika ajang sebenarnya, Euro, berlangsung. Tatkala orang mempertanyakan kemandulan Jerman, faktanya Jerman menjadi satu-satunya tim yang mampu menjuarai grup dengan predikat belum kebobolan satu gol pun alias clean sheet! Memang baru tiga gol yang baru mereka cetak, namun dengan tujuh poin tanpa terkalahkan, itu menunjukkan grafik Jerman sedang naik. Prancis, Wales, Kroasia, Italia, dan Hongaria boleh menjadi pemuncak grup masing-masing, tetapi mereka sudah pernah kebobolan, bahkan Spanyol, Inggris, dan Portugal  yang terbilang memiliki seabreg pemain hebat, tak sanggup menjadi juara grup dan gawang mereka harus kebobolan.

Jika kita melihat grafik Jerman di Euro saat ini mirip dengan apa yang mereka jalani saat di Piala Dunia 2014 lalu. Di fase Grup G, Jerman memulai dengan mencetak empat gol ke gawang Portugal, namun mereka nyaris dipermalukan Ghana di laga kedua dan hanya mampu bermain 2-2. Di laga terakhir, Jerman dengan susah payah mengalahkan Amerika Serikat 1-0. Lihatlah bagaimana perjalanan Jerman di Euro saat ini. Menang dua gol dari Ukraina, lalu ditahan imbang tanpa gol Polandia, dan hanya menang tipis dari Irlandia Utara. Kondisinya sama dengan kondisi Jerman sebelum meraih Piala Dunia. 

Jerman akan menjadi lebih superior saat mereka diremehkan banyak orang dan itu justru akan menguntungkan mereka. Ditopang dengan mental juara mereka yang tak perlu diragukan lagi, kemudian tradisi kuat sebagai negara yang punya banyak pemain berkualitas, kita akan melihat sampai di mana kemampuan Der Panzer ketika berada di babak perdelapan-final dengan memakai sistem gugur. Jerman harus membuktikan ketangguhan mereka dengan meladeni Slowakia, tim yang pernah mempermalukan mereka saat bermain di laga uji coba.

Memang laga uji coba tak bisa dijadikan ukuran bahwa Slowakia bakal mampu mengulang kemenangan atas Jerman. Bermain di putaran final turnamen besar seperti Euro perlu mental yang kuat, karena atmosfernya jelas berbeda. Slowakia tak bisa dipandang sebelah mata dan bisa saja Marek Hamsik dkk membuat kejutan besar menyingkirkan Jerman. Dalam sepak bola kemungkinan itu selalu ada. Tapi, melihat performa Jerman yang selalu bisa melaju sampai semi-final di Euro 2008 dan 2012, termasuk di Piala Dunia 2010 dan 2014, jelas faktor ini sangat kuat mendukung bahwa Jerman akan mampu melewati Slowakia. 

Situasi dan kondisi yang berat mungkin baru tersaji di perempat-final saat Jerman harus berhadapan dengan salah satu di antara Spanyol atau Italia. Jika mampu melewati perempat-final, Low harus berpikir keras bagaimana harus menyisihkan Prancis atau Inggris. Beratnya jalan menuju final seperti yang juga dialami Jerman di Piala Dunia 2014. Mereka harus melewati Prancis di perempat-final, kemudian berjumpa dengan tuan rumah Brasil di semi-final, dan akhirnya sampai di final bertemu Argentina. Faktanya, ketiga lawan berat itu semua berhasil dilewati Jerman dengan sempurna dan mereka meraih gelar juara dunia. Apakah Jerman bisa melakukan hal yang sama di saat mereka menghadapi kritik media dalam negeri sendiri? Sekali lagi, bukan Jerman jika tak mampu melewati badai kritik yang sebenarnya memang sangat disukai mereka untuk memacu adrenalin.

Sumber: goal.com


Blog, Updated at: 07.32.00
Comments
0 Comments

0 komentar:

Poskan Komentar

Aspirasi Anda