Solusi Menghadapi Replanting Sawit Dengan Bertenakan Ayam Broiler

Posted by

PERAWANGPOS, LUBUK DALAM- Berbicara masalah pertanian dan peternakan harus dipandang  secara komprehensif. Pada sistem pertanian modern saat ini, Pertanian dan peternakan dipandang sebagai kesatuan yang tidak dapat dipisahkan apalagi sejak dikampanyekannya Go Organik.

Pada saat yg akan datang Masyarakat Kabupaten Siak akan menghadapi Replanting kebun kelapa sawit. Bahkan banyak perusahaan yang sudah melirik dan investasi untuk berperan serta kemitraan dengan petani.
Sekian banyak perusahaan yang mensosialisasikan kerjasamanya tidak serta merta dapat diterima oleh petani.

Alasannya banyak, dari biaya yang tinggi sampai sistem bagi hasil yang tidak pro petani. Beberapa masyarakat memang sudah memulai menghadapi masa sulit replanting nanti. Salah Satunya adalah beternak Ayam Potong Broiler.

Di Kecamatan Lubuk Dalam ada sekitar 20 pengusaha broiler dengan jumlah populasi 230.000 ekor. Jika dalam budidaya normal maka keuntungan dapat mencapai Rp.690.000.000 per Periode budidaya atau sekitar 4.140.000.000/Tahun.

Dari usaha ini mampu menyerap banyak tenaga kerja seperti Anak Kandang, pengusaha kayu bakar dan sekam dan jasa pemotongan ayam. Mereka bisa hidup dari adanya usaha ini dan mengurangi jumlah pengangguran di Indonesia.

Kembali berbicara replanting, sebenarnya tidaklah rumit dan semahal yang dibayangkan. Dari proses penumbangan, tebang, rumpuk sampai penanaman tidak diestimasi tidak lebih dari 50 juta rupiah.

Jika kita punya keberanian apabila tanah dibuka kemudian bertanam dengan tumpang sari misal Jagung hibrida atau jagung manis. Dalam Luasan 1 Ha berpotensi 9 ton. Jika harga per kg pipilan 3000 maka potensi pendapatan Rp. 27.000.000/Ha atau 54 Juta per Kavling.

Apabila pemerintah bisa membuat nota kesepakatan dengan Perusahaan besar Misalnya Phokpan dll, maka hal ini bisa menjadi alternatif dalam mencari modal biaya replanting.

Hasil limbah jagung dapat diberikan ke ternak Sapi yang juga menjadi program peternakan saat ini. Kotoran ayam broiler dan sapi dapat menjadi nilai tambah untuk mengurangi besarnya biaya produksi pemupukan dan perbaikan lahan.

Apalagi banyak alat pengolah pupuk hibah pemerintah yang mangkrak karena berhentinya usaha dan tidak adanya kerjasama lintas sektoral saat ini, jika dioptimalkan itu akan lebih bermanfaat lagi.

Dilaporkan Amyono SP
Ket. Foto : salah satu pelaku usaha peternakan broiler Kab. Siak dan Inisiator Organik Farming Sistem


Blog, Updated at: 09.31.00
Comments
0 Comments

0 komentar:

Poskan Komentar

Aspirasi Anda