Gara-Gara Potong Rambut Siswa, Guru ini Dipenjara

Posted by

PERAWANGPOS, Malang menimpa seorang Guru SD karena telah mencukur rambut siswanya yang dinilai terlalu panjang, Namun karena hasil cukurannya berbeda dari orang lain membuat siswa tersebut menjadi murung dan terganggu psikologisnya.

Aop Saopudin mencukur siswa SD kelas III karena rambutnya gondrong. Orang tua siswa, Iwan Himawan tidak terima dan mencukur balik Aop. Kasus ini lalu berlanjut ke pengadilan.

Guru SDN Penjalin Kidul V, Majalengka, Jawa Barat mencukur siswanya pada 19 Maret 2012. Atas hal ini, Iwan mempolisikan Aop, dan para guru di Majalengka tidak terima. Iwan lalu dilaporkan balik dan kasus ini masuk ke pengadilan. Jaksa lalu mendakwa Aop dengan 3 pasal sekaligus yaitu:

1. Pasal 77 huruf a UU Perlindungan Anak tentang perbuatan diskriminasi terhadap anak.
2. Pasal 80 ayat 1 UU Perlindungan Anak tentang penganiayaan terhadap anak.
3. Pasal 335 ayat 1 kesatu KUHP tentang Perbuatan Tidak Menyenangkan.

Atas dakwaan ini, Pengadilan Negeri (PN) Majalengka menyatakan Aop telah melakukan perbuatan tidak menyenangkan terhadap siswanya. Aop lalu diberikan hukuman percobaan dan dikuatkan di tingkat banding. Namun jaksa masih tidak terima dan ngotot si Aop haruslah dipenjara. Jaksa mengutip hasil pemeriksaan psikolog dari Polda
Jawa Barat tertanggal 16 Mei 2012 yang menyatakan siswa tersebut mengalami trauma psikis dari peristiwa yang dialaminya.

"Hal tersebut mempengaruhi aktivitas belajar subyek, pada akhirnya subyek mudah mengalami ketakutan, menghindari lingkungan dan bersikap pasif," ujar jaksa dalam memori kasasi yang dikutip dari website Mahkamah Agung (MA), Jumat (1/1/2016).

Selain itu, jaksa juga menyalahkan majelis hakim yang tidak mengindahkan keterangan saksi ahli pidana dari Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto, Dr Noor Aziz Zaid. Dalam keterangannya, Noor Aziz menyatakan perbuatan menggunting rambut yang satu dibedakan dengan yang lain, bagaimana pun juga akibat diskriminasi, dilihat dari jiwa anak usia 8 tahun dan menimbulkan efek negatif secara psikologis anak.

"Majelis hakim juga mengabaikan fakta akibat dari perbuatan itu siswa tersebut merasa malu dan tertutup, baik terhadap orang tua maupun teman-teman sebayanya," kata jaksa.

Namun hati nurani Mahkamah Agung (MA) tidak terketuk dengan argumen jaksa. Malah, hakim agung Syarifuddin, hakim agung Desnayeti dan hakim agung Salman Luthan berkeyakinan lain dan membebaskan Aop. Sebab, MA menilai Aop sebagai guru memiliki fungsi pendidikan dan edukasi, salah satunya memberikan sanksi kepada siswanya.

Bagaimana dengan Iwan? Ia awalnya juga dihukum percobaan di tingkat pertama. Tapi oleh Pengadilan Tinggi (PT) Bandung, majelis hakim mencoret hukuman percobaan dan menjatuhkan pidana penjara kepada Iwan selama tiga bulan. Hukuman kepada Iwan lalu dikuatkan di tingkat kasasi.

Sumber: Detik.com

Ket.foto : ilustrasi


Blog, Updated at: 23.48.00
Comments
0 Comments

0 komentar:

Poskan Komentar

Aspirasi Anda