Ujian Nasional, antara Kejujuran dengan Kelulusan

Posted by

“Diantara tanda kiamat kecil, adalah banyaknya kebohongan.” HR Ahmad.

HARI ini Ujian Nasional, UN, tahun ajaran 2015-2016 kembali digelar. Selama 3 hari kedepan, para siswa akan berjibaku dengan soal-soal ujian. Berharap mampu mengerjakan soal demi soal dan meraih nilai tinggi disetiap mata pelajaran. Memang nilai akhir dari ujian nasional tidak menjadi patokan bagi siswa dalam kelulusannya, dimana hasil ujian sekolah menjadi patokan yang utama. Namun bagi mereka yang akan melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, harapan untuk mendapatkan nilai UN yang tinggi pasti sangat besar.

Penyelenggaraan ujian nasional pada tahun ini, mulai berbasis komputer dikenal dengan UNBK. Meskipun beberapa sekolah masih ada yang menggunakan system Paper Based Test (UN-PBT) atau menggunakan kertas manual. Tujuannya tidak lain untuk mengurangi kecurangan yang terjadi, seperti kebocoran soal, saling mencontek, beredarnya kunci jawaban soal, maupun adanya oknum-oknum yang bermain memanfaatkan situasi untuk mendulang keuntungan. Ya meminimalisir kecurangan.

Anies Baswedan, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, dalam surat cinta untuk peserta UN dan orang tua mengatakan “mari berhenti membiarkan kecurangan dan berhenti berbuat curang. Mari kita tetapkan hati kita bahwa mereka yang berusaha mengotori proses pendidikan ini adalah pengkhianat bangsa. Kecurangan itu adalah menghianati jutaan siswa lain yang belajar dengan serius, ratusan ribu guru membimbing siswa belajar dan bekerja dalam sunyi menyiapkan penyelenggaraan UN.” Pertanyaannya kenapa beliau menyinggung masalah kecurangan? Padahal beliau dalam sidak UN di SMA 1 Hangtuah mengatakan “Dengan komputer, sudah tidak ada lagi kekhawatiran soal bocor. Semuanya sudah siapkan ke komputer. Tinggal diunduh saja,” kata Anies. Pernyataan itu berarti menyiratkan bahwa kecurangan pasti ada, meskipun persentasenya kecil atau mungkin mendekati nihil.

Kecurangan sejatinya merupakan bentuk ketidakjujuran dalam diri, apapun itu bentuknya dan siapapun pelakunya. Kecurangan dalam mengerjakan soal ujian sekolah, berarti ketidakjujuran diri dalam proses belajar selama ini. Artinya kita tidak belajar, kita tidak jujur terhadap diri kita sendiri. Ketika pagi hari kita pamit ke orang tua untuk berangkat ke sekolah, namun kemudian bermalas-malasan dalam belajar, itu bentuk dari ketidakjujuran. Ketika waktu ujian semakin dekat, sistem kebut semalam menjadi solusi. Yang ada stres, galau dan bingung meraja. Akhirnya pikiran menginspirasi untuk berbuat curang, mencontek, mencari bocoran soal, menjadi solusi paling gampang. Instan dan efektif.

Khalifah Umar ibn Khattab pernah berkata, “Kejujuran yang membuatku hina, namun jarang sekali ia membuat hina, lebih kucintai daripada kebohongan yang membuatku mulia, namun jarang sekali ia membuat mulia.”

Ya jujur itu melelahkan, kita harus bekerja keras untuk meraih sesuatu hal, tidak segera menghasilkan. Kita akan berlelah-letih dalam berproses, berkeluh-kesah, berkeringat basah, berpikir dan bekerja keras, itu sunatullah. Hasil instan itu tak berbekas, lekas mengelupas.

Lulus sekolah pasti diidam-idamkan oleh seluruh siswa, tidak terkecuali. Mendapatkan nilai ujian sesuai standar kelulusan, atau melebihi angka minimal tentu pula diharapkan oleh para siswa. Tetapi ketika tujuan akhir menjadi sesuatu yang sangat penting, maka proses untuk mencapai kelulusan menjadi terabaikan.

Yang penting lulus. Yang penting nilainya bagus. Yang penting bisa mengisi lembar jawaban. Mental yang penting inilah membuat kita semua abai terhadap proses. Lebih menghargai hasil ketimbang proses, sehingga menghalalkan berbagai macam cara. Maka kecurangan demi kecurangan terjadi dalam institusi pendidikan. Jual beli kunci jawaban, saling memberi tahu isian soal, oknum pengajar yang memancing di dalam air keruh menjadi fenomena.

Ah sudahlah. Sudahi ketidakjujuran yang selama ini terjadi. mari kita bekerja keras, menyelaraskan antara pikiran dan tindakan. Ingin lulus, ya belajar. Bukan berbuat curang. Wallahu Alam.

“Kejujuran adalah ketenangan, sementara kebohongan adalah kegelisahan.” HR al-Tirmidzi & Imam Ahmad.

Sumber: Islampos


Blog, Updated at: 13.40.00
Comments
0 Comments

0 komentar:

Poskan Komentar

Aspirasi Anda