Kronologis Cinta Terlarang Berakhir Mutilasi Wanita Hamil

Posted by

PERAWANGPOS, JAKARTA- Kepolisian kemarin menangkap Kusmayadi alias Agus bin Dulgani, 31 tahun, pelaku pembunuhan dan mutilasi wanita hamil, Nuri.

Tim Gabungan Sub Direktorat Kejahatan dan Kekerasan Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya, Kepolisian Resor Tangerang Kabupaten dan Kepolisian Sektor Cikupa menangkap Agus di rumah makan Padang, Selera Bundo, Jalan Masrip, Karangtilang, Surabaya, pada Rabu 20 April 2016. "Saat ini sedang menjalani pemeriksaan di Sub Direktorat Jatanras (Kejahatan dan Kekerasan) Polda Jatim," kata Kepala Tim Gabungan Kepolisian Herry Heryawan dalam pesan tertulisnya kepada Tempo, Kamis, 21 April 2016.

Dalam penyidikan terhadap Agus sejak kemarin, terungkap fakta awal perkenalan Agus dengan Nuri, hingga akhirnya Nuri tewas dibunuh dan dimutilasi. BACA: Sadis, Ini yang Dilakukan Agus Sebelum Memutilasi Kekasihnya

Kusmayadi alias Agus alias Petrus ternyata merupakan kepala Rumah Makan Gumarang. Ia pertama kali bertemu Nuri di restoran itu sekitar Juli 2015 saat wanita itu bekerja sebagai kasir. Tak berapa lama, Nuri kemudian dipindah ke Rumah Makan Gumarang Taruna Cikupa. Walaupun berbeda tempat kerja, keduanya tetap berhubungan melalui telepon dan SMS.

Pada Agustus 2015 keduanya bertemu di KFC Citra Raya Cikupa. Agus mengaku masih bujang, dan Nuri mengaku janda. Keduanya kemudian sepakat untuk mencari tempat tinggal di kontrakan H. Malik, dekat Pasar Cikupa.  BACA: Ini Motivasi Agus Habisi Kekasihnya

Setelah tinggal serumah, keduanya kerap berhubungan badan, hingga akhirnya Nuri mengetahui Agus telah memiliki istri. Keduanya sempat terlibat pertengkaran.

Usai tinggal sebulan bersama Agus, Nuri menyampaikan ia terlambat datang bulan. Saat diperiksa oleh bidan di dekat Pasar Kamis Tangerang, Nuri dinyatakan hamil.

Sekitar 3 April 2016, keributan kembali terjadi. Agus kepada penyidik, Nuri sering marah kepada Agus yang tak kekurangan uang dan sering terlambat pulang. Nuri yang sebelumnya sering meminta kejelasan status atas hubungan mereka akhirnya meminta Agus agar orang tuanya datang melamar dan menemui keluarga Nuri di Malimping, Banten.

Pada Kamis 7 April 2016, Agus sempat bercerita kepada salah satu rekannya, Valen, bahwa dia sedang memiliki masalah. Dan bertanya, apakah membunuh orang berdosa besar atau tidak. Pada hari berikutnya, Jumat, 8 April 2016 ia bertanya kepada temannya yang lain, Erik, apakah pernah membunuh orang, kemudian Erik mengatakan tidak pernah, karena takut. Pada Sabtu, ia kembali bertanya kepada Erik tentang hal yang sama.

Pada pukul 8 pagi, Ahad 10 April 2016, Agus membeli nasi bungkus untuk dimakan berdua dengan Nur di kontrakan. Namun keduanya sempat ribut karena Nuri menanyakan kapan pulang kampung untuk menemui orang tua Nuri di Banten. Agus pun menjawab sabar, agar tidak usah buru-buru pulang.

Namun pada pukul 10.00 keduanya kembali ribut dan Nuri didorong Agus hingga terjatuh disertai dengan kata-kata kasar. Ia membanting dan memiting Nuri dengan sangat kuat.

Nuri sempat berteriak dua kali meminta tolong, tetapi tersangka semakin kuat memitingnya. Sekitar 30 menit kemudian, Agus melepaskan dan mengetahui Nuri sudah meninggal dunia. Usai membunuh, Agus kembali ke Rumah Makan Gumarang dan meminta bantuan Erik. Tapi Erik baru bisa membantu pada malam harinya.

Pukul 19.30 terbersit pemikiran tersangka untuk menghilangkan jejak. Agus kemudian mengambil golok yang ada di bawah TV. Ia memotong lengan pada bahu kanan dan kiri. Ia kemudian membeli plastik besar dan memasukkan potongan tangan tersebut ke dalam plastik dan disimpan di kos.

Pukul 20.00, dengan bantuan Erik, Agus meminjam motor tetangganya, Mahdi. Agus kemudian mengambil dan menyerahkan potongan tangan yang sudah dibungkus kepada Erik. Erik sempat bertanya, "Ini apa? Kenapa berat sekali?"

Agus menjawab,"Itu salah satunya." Kemudian potongan tangan tersebut oleh Erik dibuang di tempat pembuangan sampah Bugel, Tiga Raksa. Tersangka kemudian tidur di mess Rumah Makan Gumarang.

Pada Senin, 11 April 2016, pukul 07.00 tersangka kembali ke kontrakan dan membersihkan darah serta jejak kaki. Pukul 16.00, Agus memotong kaki pada pangkal paha sebelah kanan dan kaki kiri. Ia kemudian membuang potongan kaki tersebut di sungai Surya Toto, sekitar 500 meter dari Pasar Tiga Raksa, Cikupa, Tangerang, dan Agus kabur meninggalkan potongan mayat Nuri yang hanya menyisakan kepala dan badan.

Pada Rabu, 13 April 2016, masyarakat sekitar yang mencium adanya bau busuk di kamar kontrakan dan setelah diperiksa mereka menemukan sosok mayat Nuri. Masyarakat kemudian melaporkan penemuan tersebut kepada Kepolisian Sektor Cikupa, Tangerang.

Rabu, 20 April 2016, setelah berbagai penyelidikan dilakukan dan menetapkan Agus sebagai daftar pencarian orang oleh Polda Metro Jaya, Agus ditangkap oleh Tim Gabungan Polda Metro Jaya, Polres Tangerang, dan Polsek Cikupa di Rumah Makan Selera Bundo, Surabaya. Menurut Herry Heryawan, Agus sebelumnya yang menjalani pemeriksaan intensif di Polda Jawa Timur selanjutnya akan dibawa ke Jakarta.

Sumber : Tempo.co


Blog, Updated at: 05.45.00
Comments
0 Comments

0 komentar:

Poskan Komentar

Aspirasi Anda