Justru Masa Hindu-Budha lah Rakyat Paling Menderita

Posted by

PERAWANGPOS, Solo --  Komunitas Insan Cendekia (KUNCI) Fakultas Ilmu Budaya (FIB) dan Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) Universitas Sebelas Maret (UNS) menggelar Diskusi Cerdas Ala Mahasiswa, Senin (25/4/2016).

Bertemakan “Menggali Falsafah Budaya, Tradisi Jawa Berdasarkan Worldview Islam”, menghadirkan pembicara Drs. Imam Sutardjo, M.Hum (Dosen Sastra Daerah FIB UNS) dan Arif Wibowo, S.p,M.Pi (Koordinator Pusat Studi Peradaban Islam-PSPI Solo).

Acara yang digelar di mushola FIB UNS dihadiri 30 mahasiswa dan masyarakat luar. Dalam makalahnya, Arif Wibowo menyimpulkan bahwa Hindu dan Budha telah gagal dalam merangkul rakyat Jawa.

“Yang paling menderita di era kebudayaan candi (Hindu dan Budha) tentu saja rakyat jelata, dari petani, peternak dan pedagang kecil. Sementara penguasa menjadi horor masyarakat, namun Islam yang waktu itu masih berada di pesisir, membuat masyarakat yang eksodus dari pusat kerajaan menjadikan mereka mengenal para pedagang muslim dan ulama. Akhirnya mereka berbondong-bondong masuk Islam”uajr Arif.

Sedang Imam Sutarjo mengatakan bahwa tradisi Jawa termasuk tembang maupun langgam jawa sebenarnya memiliki falsafah dan maksud penyebaran dakwah ajaran-ajaran Islam. Karena sekarang ini banyak ditinggalkan masyarakat seiring perkembangan jaman, dan berusaha masyarakat Islam memurnikan syari’at yang benar, maka budaya ini sering dianggap bid’ah.

“Walisanga dalam syiar Islam di tanah Jawa selalu menyesuaikan situasi maupun kondisi, dan ajakannya secara bijaksana. Untuk itu mereka memasukkan ajaran Islam lewat kesenian, pakaian, adat istiadat, sastra, upacara baik kelahiran, pernikahan maupun kematian” ucap Sutardjo.

Dalam kesempatan tersebut Imam Sutardjo sesekali melantunkan tembang-tembang Jawa dan menjelaskan maksud dan tujuan bait-bait tembang tersebut.

Sumber : Panjimas


Blog, Updated at: 09.36.00
Comments
0 Comments

0 komentar:

Poskan Komentar

Aspirasi Anda