Umar Septono, Jenderal Polisi Langka Berhati Mulia

Posted by

PERAWANGPOS, NTB- Berapa banyak jenderal yang mau menciun tangan bawahannya, atau nenek tua dan miskin, yang bukan keluarganya? Ada, tapi tidak banyak. Nah, di antara makhluk langka itu, Brigadir Jenderal Umar Septono, salah satunya. Dia Kapolda NTB. Tujuannya ternyata mulia.

Ia memang tak pernah lelah untuk memberikan contoh dalam berperilaku. Tak heran hal itu membuatnya menjadi perhatian publik, karena dengan gayanya amat bersahaja.

Sebagai contoh, sang jenderal tidak segan-segan mencium tangan seorang nenek tua penjual keripik singkong. Umar bertemu sang nenek saat hendak melayat keluarga salah seorang anggota polisi di wilayah Gomong, Kota Mataram (28/2).

“Saya menyayangi orang tua, orang miskin, dan anak yatim. Jangan sampai marah kepada kita. Ada ayatnya dalam Al Quran,”  ujar Kapolda. “Menghormati dan menyayangi orang miskin adalah perintah Tuhan.”

Umar yakin, tak semua orang sanggup menerima ujian seberat yang diterima oleh orang-orang yang ia cium tangannya itu. Nah, ia ingin anak buahnya punya pola pikir sama.

Tak ayal, orang-orang yang tangannya dicium Kapolda merasa terharu. Begitu pula AKP Lalu Kastari (58), anggota Sat Brimob Polda NTB. Pimpinan tertinggi di jajaran Kepolisian NTB itu mencium tangannya saat bersalaman seusai upacara peringatan hari ulang tahun Brimob di Skip, Ampenan, akhir tahun lalu.

Umar mencium tangan anak buahnya menjelang masa pensiun, seolah sedang bersalaman dengan orangtuanya sendiri. Ia merasa bangga diperlakukan seperti itu oleh pimpinan.

“Walaupun pangkat saya rendah, beliau mau mencium tangan saya di depan semua orang. Ada wakil Gubernur dan para pejabat provinsi lainnya. Puluhan tahun bekerja, baru kali ini saya merasa sangat dihormati. Saya terharu,” ucap Lalu Kastari dengan mata berkaca-kaca.

Jenderal bintang satu ini memang punya rasa peduli yang tinggi. Ia kadang juga menepikan tata karma dan hierarki jabatan. Ia pernah menolong langsung korban kecelakaan, seperti dituturkan ajudannya, Briptu Ramdan.

Sepulang dari Lombok Tengah, ia berpatroli mengontrol anggota dalam masa pengamanan tahun baru 2016, Jumat (1/1). Kebetulan, ia melihat kecelakaan lalu lintas di Jalan Lingkar Selatan Mataram dengan beberapa korban tergeletak bersimbah darah.

Seketika Umar memerintahkan sopirnya memutar balik. Lokasi kejadian berada pada sisi jalur yang lain dari arahnya di Jalan Lingkar selatan. “Sebenarnya sudah lewat, tapi bapak memerintahkan untuk berbalik arah,” kata Ramdan.

Tanpa basa-basi, Kapolda langsung turun dari mobil dan berlari menghampiri para korban. Ternyata mereka baru saja jadi korban tabrak lari. Melihat salah seorang di antaranya adalah anak kecil yang terkapar, ia langsung menggendong anak tersebut, untuk dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara. Total korban tiga orang.

“Selesai sholat ashar berjamaah, Bapak telepon ke rumah sakit. Saya dengar sekilas, bapak yang akan menanggung semua biaya pengobatan para korban tabrak lari yang ditolongnya tersebut,” ujarnya.

Satu hal lagi yang ia contohkan ke anak buah, adalah sholat berjamaah. Ketika menjadi tamu undangan pada acara pembukaan Festival Senggigi, ia terlihat buru-buru meninggalkan acara. Bersama ajudan, ia menembus kepadatan lalu-lintas dengan sepeda motor. “Saya ingin shalat ashar di awal waktu. Di lokasi acara tidak ada masjid. Ya sudah boncengan. Alhamdulillah dapat,” ujarnya.

Tuakang Sapu

Sebelumnya, Umar dipuji banyak netizen kala foto dirinya bersama seorang tukang sapu beredar di Facebook. Seorang tukang sapu yang telah lama mengabdi membersihkan markas komando Polda NTB, dihadirkan secara khusus oleh Umar saat apel Senin pagi (29/6) di lapangan Gajah Mada.

Jelas pemandangan tak wajar, sebab biasanya kapling itu hanya diisi para pejabat teras dan perwira menengah ke atas. Namun kali ini ada tukang sapu berdiri, dengan sapunya. Persis di samping Umar saat memberi arahan.

“Di mata dunia, tukang sapu mungkin adalah strata terendah. Tapi di mata Tuhan, beliau ini lebih tinggi dari saya, bahkan mungkin dari kalian semua,” ungkap Kapolda seperti dikutip dari laman Facebook Polda NTB.

Umar mengingatkan, dengan honor Rp 500 ribu per bulan, tukang sapu itu sejak pukul 4.30 WITA sudah ada di Mapolda. “Walau pun kalian sebar sampah, dia diam saja. Apa kita tidak malu? Kita mendzolimi beliau,” imbuh Kapolda.

Karena itulah ia menggalakkan gerakan bersih lingkungan di seluruh wilayah kerjanya. Sungguh patut dicontoh komandan satu ini. Salut, Jenderal!


Blog, Updated at: 06.10.00
Comments
0 Comments

0 komentar:

Poskan Komentar

Aspirasi Anda