Nyatakan Diri "Berhijab Halal", Ternyata Zoya Malah Belum Bersertifikat Halal

Posted by


PERAWANGPOS Kehadiran “hijab dengan label halal” dari brand busana Muslim Zoya telah menimbulkan pro dan kontra di kalangan netizen. Menyikapi hal tersebut, Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang mengeluarkan label halal ini pun angkat bicara mengenai hal tersebut.

Direktur LPPOM (Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan, dan Kosmetika) MUI, Dr. Ir. Lukmanul Hakim, M.Si, mengatakan bahwa klaim “hijab halal” merupakan sebuah kesalapahaman. Yang sebenarnya mendapat sertifikasi halal dari pihaknya adalah bahan dari hijab tersebut. Perusahaan pembuat hijab itulah yang mengajukan pada pihak LPPOM MUI untuk mendapat sertifikasi halal.

“Zoyanya sendiri belum memiliki sertifikat halal. Jadi dia tidak boleh mengklaim halal,” ujar Lukmanul sebagaimana dikutip DetikWolipop, Kamis (4/2).

Lukmanul menambahkan saat ini pihaknya sudah berkomunikasi dengan Zoya soal penggunaan logo MUI di poster promosi mereka. Dia berharap bisa ada solusi terbaik, karena dia menilai bahwa apa yang dilakukan Zoya dengan memberikan label halal pada produk hijabnya merupakan sebuah edukasi.

Menurut Lukmanul, penggunaan serifikasi halal pada suatu produk seperti kain kerudung ini sudah diatur dalam Undang-undang No. 33 Tahun 2014 Tentang Jaminan Produk Halal (UU JPH).

“Bukan MUI yang mewajibkan, memang sudah ada di dalam undang-undang,” katanya.

Kehadiran “hijab halal” yang menurut MUI menjadi sebuah edukasi ini di sisi lain menimbulkan pro dan kontra di masyarakat. Ada yang setuju dengan sertifikasi halal, namun ada juga yang jadi resah karena apakah nantinya semua barang yang digunakan harus dipastikan kehalalannya.

Menanggapi keresahan ini Lukmanul mengatakan, sama seperti makanan dan minuman, masyarakat Muslim memang sudah sewajarnya memperhitungkan apakah produk yang mereka gunakan halal atau tidak.

“Resah terhadap halal dan haram berarti dia orang yang bertakwa,” ujar Lukmanul.

Dalam hal hijab, Lukmanul menekankan bahwa aturan dalam berpakaian syar’i bukan hanya menutup aurat saja. Pakaian tersebut juga harus terbebas dari najis dan kotoran atau terhindar dari hal-hal haram. “Terkait sertifikat halal, kalau yang bersertifikat halal, halalnya sudah pasti. Yang tidak bersertifikat, belum pasti halal dan haramnya,” pungkasnya.
[Antiliberal]


Blog, Updated at: 06.02.00
Comments
0 Comments

0 komentar:

Poskan Komentar

Aspirasi Anda