Korban Banjir, Siapa Yang Baca Membuat Air Mata Menetes

Posted by

"Nama saya Devi, Pak," begitu Ibu paruh baya mengenalkan diri.

Matanya terlihat berbinar meski raut mukanya nampak letih. Senyum dan keceriaannya berusaha untuk ia tunjukkan. Dalam pengakuannya, ada kebahagiaan yang mengembang dari lubuk hati Bu Devi dan para korban banjir. Ada keharuan yang mencuat tatkala melihat perjuangan-perjuangan saudara mereka yang tiba-tiba muncul, seolah menjadi bagian dari diri mereka seutuhnya. Walau sebelumnya tak pernah saling mengenal satu sama lain.

"Lihat, Pak. Kami tak mengenal mereka satu persatu. Tapi seolah mereka sangat mengenal kesulitan kami," tuturnya terbata.

Yang dimaksud "mereka" oleh Bu Devi adalah orang-orang yang sebagiannya mengenakan seragam bertuliskan "Pandu Keadilan", merekalah saudara-saudara baru Bu Devi dan Warga korban banjir di Kabupaten Kampar, Riau. Saudara yang turut menanggung beban susah dan derita akibat banjir yang melanda hampir di dua belas kecamatan di sepanjang aliran Sungan Kampar. Saudara yang hadir pertama kali membangun posko-posko darurat bencana, membantu evakuasi, menggalang bantuan, bahkan memasak untuk korban banjir. Tanpa pamrih, tanpa puja puji.

"Ya Allah... mereka itu ada yang sampai menggendong korban segala, Pak. Sungguh mereka yang datang pertama bahkan sebelum perwakilan pemerintah datang," ungkapnya.

Perbincangan kecil kami dengan Bu Devi terhenti ketika matanya melihat sosok pria berkacamata dan mengenakan baju putih, yang tak lain Presiden PKS Mohamad Sohibul Iman.

"Itu Pak Presidennya kan, Pak?"

Aku mengangguk perlahan. Kulihat ekspresi mukanya seolah tak percaya.

"Duh, kok mau repot-repot kesini? Apa nggak cukup yang sudah ada disini? Lagian beliau kan orang Jakarta. Apa nggak sibuk, Pak?" pertanyaannya tiba-tiba mengalir. Meski terkesan pertanyaan sederhana, namun itu semua mewakili kondisi hatinya.

Bu Devi masih merasa aneh melihat ada seorang Presiden Partai yang mau mengunjungi daerah korban bencana dengan menepikan kesibukan dan waktu istirahatnya. Seorang petinggi yang rasanya akan enggan untuk berinteraksi langsung dengan para korban banjir, demikian prasangka Bu Devi.

"Oh, beliau juga kan bagian dari Ibu dan warga disini semua, Bu. Soal orang Jakartanya, tak perlu dipikirkan," aku mencoba menengahi hati Bu Devi.

"Beliau ingin memastikan bahwa Ibu dan warga lainnya mendapatkan pelayanan terbaik dari para kader PKS yang bertugas. Bila ada kekurangannya, beliau akan berkoordinasi dengan pihak terkait," salah seorang Relawan turut menjawab.

"Masya Allah... ini Presiden pertama yang datang mengunjungi kami, Pak. Kami sangat senang ada posko seperti posko PKS ini. Cepat, tanggap, dan ramah melayani. Walau pun banyak yang tidak tahu apa PKS, tapi disini kami jadi tahu, mereka sangat dekat dengan kami," ujarnya.

"Tambahin, Bu. Bukan Presiden saja ya, tapi Presiden PKS. Biar nggak ketuker," seorang Relawan PKS terdenger berseloroh dengan senyum.

"Iya, Pak. Presiden PKS," ungkap Bu Devi.

Bertepatan dengan kedatangan Presiden PKS, dibagikan tidak kurang dari 200 paket sembako untuk warga korban banjir di Posko Darurat Tanggap Bencana PKS untuk 198 warga korban banjir di daerah Teratak Buluh, Kabupaten Kampar, Riau. Dimana banyak di antaranya yang kehilangan hasil ladang, barang, dan busuknya hasil pertanian karena terendam banjir.

Kang Ewa & Relawan Literasi Riau


Blog, Updated at: 16.48.00
Comments
0 Comments

0 komentar:

Poskan Komentar

Aspirasi Anda