Fakta-fakta Pengguna Ponsel Pintar di Indonesia

Posted by

PERAWANGPOS -- Sejumlah 50% pengguna smartphone di Indonesia mengecek ponsel mereka sebanyak 100-200 kali per hari. Kecenderungan ini berlangsung tiap 5 hingga 10 menit tergantung dari jumlah aplikasi yang terdapat dalam smartphone mereka. Kini tren aplikasi mobile telah mengarah pada tidak hanya sekadar kebutuhan akan konten hiburan dan utilitas, namun juga menjadi bagian dalam kebutuhan sehari-hari.

Narenda Wicaksono, CEO Dicoding Indonesia; Magnus Ekbom, CEO Lazada Indonesia dan Kun Arief Cahyantoro, pengamat e-commerce.


Data tersebut berdasarkan survei yang dilakukan Lazada Indonesia sejak Februari 2015 terhadap 2000 orang konsumennya mengenai tingkat penggunaan aplikasi pada smartphone.

Magnus Ekbom, CEO Lazada Indonesia, mengatakan bahwa penggunaan konten aplikasi pada smartphone akan mendorong pertumbuhan industri ekonomi digital yang terus mengalami peningkatan. Internet memegang peran penting dalam industri yang kini bagaikan listrik, air, atau jalan tol. Tidak ada industri yang bisa hidup tanpa internet saat ini, ungkap Magnus saat menggelar acara bertajuk "Indonesia Pegang Smartphone" . Fakta di Balik Kelekatan Masyarakat Indonesia dengan Smartphone di Jakarta, (22/2).

Dari survei tersebut diketahui bahwa sekitar 85% pengguna smartphone di Indonesia memiliki 10-15 aplikasi mobile, dan sekitar 10% memiliki lebih dari 40 aplikasi pada smartphone mereka. Selain itu 50% di antaranya memiliki 3-5 aplikasi belanja online. Dengan adanyashopping apps kecenderungan belanja masyarakat Indonesia bergeser pada hari kerja. Aplikasi memberi solusi tidak hanya sekadar belanja tetapi juga eksplorasi. Banyak orang yang membandingkan produk dan harga melalui aplikasi mobile belanja online, kata Magnus.

Magnus menambahkan alasan konsumen mengunduh aplikasi belanja online karena untuk memenuhi kebutuhan belanja yang impulsif, mempelajari produk populer, mengetahui tentang produk baru, membandingkan harga, serta lebih cepat dibandingkan belanja dari desktop.

Aplikasi-aplikasi yang diunduh pengguna smartphone di Indonesia berasal dari berbagai referensi, yang mana 68% pengguna smartphone melakukan browsingaplikasi mana yang cocok untuk dirinya, 34% mengunduh aplikasi berdasarkan rekomendasi teman, dan 33% aplikasi yang diunduh karena rekomendasi dari app store.

Pada tahun 2020, sebesar 96% perangkat telepon yang terjual adalah smartphone. Jika pada tahun 2010, jumlah penjualan smartphone hanya sebesar 16% tetapi pada tahun 2015 peningkatannya berjumlah 65% untuk penjualan smartphone dibandingkan feature phone.

Faktor-faktor yang mendukung perkembangan pesat teknologi aplikasi mobile di antaranya adalah kemunculan tren-tren terbaru, pertumbuhan bisnis e-commerce serta fasilitas pendukung keamanan bertransaksi. Faktor-faktor tersebut yang secara tidak langsung berdampak pada kemudahan akses baik bagi perusahaan penyedia barang dan jasa maupun konsumen.

Kun Arief Cahyantoro, pengamat e-commerce dari Institut Teknologi Bandung (ITB) memperkirakan bahwa tahun 2016 ini akan menjadi tahun emas bagi pertumbuhan aplikasi mobile. Ia mengatakan, Pertumbuhan aplikasimobile diperkirakan dapat mencapai 45% di mana hal tersebut akan memberikan manfaat yang besar terhadap peningkatan performa industri e-commerce di Indonesia. Melalui aplikasi mobile, nantinya perusahaan penyedia barang dan jasa akan memiliki kemampuan untuk mendeteksi segmentasi pasar yang lebih fokus yang diharapkan dapat meningkatkan jumlah transaksi jual-beli. Untuk mendukung kelancaran transaksi, perusahaan perlu mengimplementasi sistem keamanan yang lebih terjamin di perangkat ponsel pintar dibanding platform peralatan mobile lainnya seperti komputer maupun laptop.

Dengan rata-rata penetrasi telepon seluler di Indonesia yang telah mencapai 121% menjadikan potensi bisnis e-commerce sangat besar. Ditambah dengan tingginya kecenderungan pengguna internet mobile yang didominasi oleh kaum usia produktif, bisnis online melalui perangkat mobile atau yang dikenal juga dengan istilah m-commerce diprediksikan akan terus meningkat. Tren bisnis ini sudah seharusnya didukung oleh kualitas pengembang (developer) aplikasi lokal yang semakin baik, tambah Kun.

Tingginya pertumbuhan e-commerce di Indonesia dan jumlah pengguna smartphone yang diprediksi akan mencapai 92 juta orang di tahun 2019 (E-Marketer, September 2015) perlu diimbangi dengan peningkatan kuantitas dan kualitas pengembang (developer) aplikasi mobile lokal di Indonesia. Hal tersebut diharapkan dapat mengakomodasi kebutuhan akan penggunaan aplikasi mobile yang terus meningkat.

Narenda Wicaksono, CEO Dicoding Indonesia, mengakui bahwa developer di Indonesia memiliki daya saing tinggi dan tidak kalah dengan developer lainnya di Asia Tenggara. Para developer sudah mulai memahami pasar di Indonesia sehingga aplikasi yang diciptakan dapat mengakomodasi kebutuhan pasar. Namun, perkembangan teknologi yang dinamis bisa membuat para developer kesulitan memenuhi kebutuhan konsumen yang terus berubah. Karena itu, mereka perlu mengantisipasi munculnya teknologi terbaru dalam melakukan transaksi jual-beli secara online, ujar Narenda. [SWA]


Blog, Updated at: 10.59.00
Comments
0 Comments

0 komentar:

Poskan Komentar

Aspirasi Anda