Nikotin "Pembunuh" Berdarah Dingin

Posted by

Oleh : Juprizal,S.Th.I

Nikotin atau nicotine (bahasa Perancis) adalah zat beracun/ narkotik tanpa warna yg terdapat di dalam tembakau dan tumbuhan lain. Prijo Sidipratomo, Ketua Umum Komisi Nasional Pengendalian Tembakau, menulis tentang bahaya rokok ini : " jumlah perokok aktif di Indonesia meningkat dari tahun ke tahun, yang menurut riset kesehatan dasar 2010 Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan RI, telah mencapai 34,7 persen dari total penduduk Indonesia. Kenaikan jumlah perokok di iringi dengan tingginya angka kematian yg disebabkan oleh penyakit-penyakit kronis akibat rokok". (Nanda Fauzy, "kita adalah korban". Jakarta: Aliansi Masyarakat Korban Rokok Indonesia, 2014, hal. 10)
Korban rokok terbesar adalah rakyat miskin dan anak-anak, rakyat indonesia dikorbankan untuk menghantarkan pengusaha rokok sebagai pengusaha terkaya se-Indonesia dengan total kekayaan 15 Milyar Dolar AS.

Apakah negara akan membiarkan rakyat miskin ini terus saja mati bergelimpangan dengan dalih pemasukan devisa dari industri maut ini ?. Berdasarkan penelitian yg disampaikan Tara Singh Bham Konsultan tembakau asal Nepal (konsultan Muhammadiyah Tobacco Control Center: MTCC) ternyata Indonesia merupakan pasar rokok ketiga di muka bumi. Fakta ini telah dimanfaatkan oleh para taipan industri rokok Indonesia sejak abad lalu tanpa mempertimbangkan efek maut yg menimpa rakyat perokok. Tak kurang Rp 11 Triliun dana harus dikeluarkan sebagai biaya kesehatan akibat rokok yg memang sebagai besar menghantam rakyat miskin dan anak-anak yg kurang asupan gizi makanan.

Angka statistik ini sungguh mengerikan: 67,4 persen pria dan 6,9 persen perempuan Indonesia saat ini menggunakan tembakau dalam bentuk rokok dan rokok elektrik. Bahaya maut yg diakibatkan rokok ini di Indonesia sudah mencapai angka 235.000 jauh melampaui kematian yg disebabkan narkoba dan HIV/AIDS, dan kecelakaan lalu lintas. Umumnya orang tak sadar karena kematian akibat racun rokok berlangsung pelan tapi pasti. Tentu ada pengecualian orang yg kebal terhadap rokok tetapi jumlahnya kecil. Hasil Penelitian Tara Singh Bham, sekitar 11,5 persen pendapatan keluarga miskin adalah untuk rokok dan hanya sekitar 4 persen untuk biaya pendidikan.

Hampir 80 persen rakyat indonesia telah mulai merokok sejak umur dibawah 19 tahun. Saya sendiri menyaksikan tak sedikit siswa SMP dan SMU merokok di perawang bahkan pada saat menggunakan seragam sekolah sekalipun. Orang tua dan masyarakat sepertinya sudah menganggap biasa seperti tak hirau lagi dengan kepulan asap maut ini. Tidak saja bagi perokok aktif, tetapi juga bagi perokok pasif yang ada dilingkungan perokok itu.

Di lingkungan negara-negara ASEAN dan di negara-negara Konferensi Islam, Indonesia jauh tertinggal dalam hal pengendalian tembakau. Negara-negara di atas telah menandatangani Framework Convention on Tobacco (FCTC) dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) PBB tentang pengendalian tembakau berdasarkan riset.

Menurut mantan ketua Muhammadiyah Syafi'i Maarif paling tidak ada 3 langkah strategis yang harus dilakukan oleh pemerintah segera: 1. Menaikkan cukai rokok sampai 70 persen dari harga ecer untuk produksi tembakau sejalan dengan Bank Dunia dan WHO.
2. Membuat regulasi pelarangan iklan, promosi dan sponsor rokok.
3. Regulasi yg lain secara berangsur dapat menginsyafkan rakyat Indonesia untuk berhenti merokok dan petani tembakau secara berangsur mengalihkan usahanya ke jenis tanaman lain sebagainya sumber gizi dan yang berguna bagi kesehatan masyarakat.

Terutama Bahan Makanan pokok yang semakin langka dan banyak diimpor dari negara lain.


Blog, Updated at: 08.15.00
Comments
0 Comments

0 komentar:

Poskan Komentar

Aspirasi Anda