400.000 Warga Suriah Dikepung Milisi Syiah, Warga Terancam Kelaparan

Posted by

PERAWANGPOS, Madaya Suriah -- Di saat lembaga bantuan yang berusaha mengirim bantuan pangan pada 42.000 penduduk Madaya, masyarakat lain di 15 wilayah menemukan diri mereka terkepung.

Ketika lembaga bantuan bersiap untuk mengirim bantuan pangan ke Madaya, wilayah pinggiran Damaskus, dan dua kota lain yang terkepung di provinsi Idlib, diperkirakan 400.000 orang di 15 wilayah Suriah hidup dalam pengepungan, menurut laporan PBB.

Sebuah kesepakatan telah disetujui mengenai pengiriman bantuan pangan ke Madaya, yang sekarang dikepung oleh pasukan yang loyal pada Presiden Suriah Bashar al-Assad, dan desa Fouad an Kefraya di Idlib, yang keduanya dikepung oleh pasukan pemberontak.

Akibat pengepungan yang dilakukan oleh pemerintah Suriah dan milisi Syiah Hizbullah, diperkirakan terdapat 42.000 penduduk Madaya yang tidak dapat mendapatkan makanan, yang sejauh ini  menyebabkan kematian 23 orang karena kelaparan, menurut laporan badan amal Doctors Without Borders(MSF), dikutip Al Jazeera, Senin (11/01/2016).

Pemberitaan tentang kelaparan yang terjadi telah tersebar luas, beberapa dari berita itu menampilkan gambar penduduk Madaya bertahan hidup dengan memakan rumput dan serangga.

Di Kefraya dan Foua, sekitar 12.500 orang kehilangan akses bantuan pangan karena diputus oleh kelompok perlawanan.

Pada 26 Desember, pasukan pemerintah Suriah membangun sebuah pos pemeriksaan dan menutup jalan utama menuju Moadamiyah, sebuah kota yang dikuasai kelompok perlawanan di wilayah pinggiran Damaskus, mendesak kelompok oposisi untuk meletakkan senjata mereka dan menyerah.

Kantor Media Moadamiyah, yang dijalankan oleh aktivis pro oposisi, diperkirakan 45.000 warga sipil terperangkap di wilayah tersebut lebih dari dua minggu.

Organisasi itu mengatakan pada Sabtu bahwa pengepungan dimulai pada April 2013 dan berlangsung selama satu tahun, menyebabkan kematian dari 16 penduduk setempat akibat kurangnya makanan dan obat-obatan.

Mereka juga mengatakan baru-baru ini satu  warga setempat meninggal pada tahun, dengan bayi berumur delapan bulan yang sekarat karena malnutrisi pada 10 Januari.

Dani Qabbani, seorang aktivis media Moadamiyah, mengatakan bahwa anak itu meninggal karena “pengepungan yang bertujuan untuk melemahkan oleh milisi Assad”.

“Mereka tidak dapat menolongnya karena hanya ada sebuah rumah sakit darurat di kota ini,” dia berkata pada Al Jazeera. “Pos pemeriksaan Assad melarang keluarganya merujuk dia ke Damaskus”.

‘’Jika situasi ini berlanjut hingga beberapa minggu ke depan, kita menduga ini akan menjadi bencana bagi 45.000 warga sipil [di Moadamiyah].’’

Sembari menjelaskan populasi setempat yang akan menurun dan dilanda ketakutan, Qabbani menambahkan bahwa ‘’mereka tidak ingin kejadian yang terjadi pada 2013 terulang kembali’’.

Sharif Nashashibi, seorang analis London dalam hubungan politik Arab, mengatakan bahwa pengepungan yang dilakukan pemerintah di tempat seperti Moadamiyah dan Madaya telah menempatkan pasukan pemberontak dibawah ‘’tekanan ganda’’.

‘’Pengepungan itu tidak hanya melemahkan para pemberontak, tetapi juga menyebabkan mereka melihat masyarakat di sekitar mereka menderita dan meningkatkan kekhawatiran bahwa masyarakat akan berbalik melawan mereka,’’ dia berkata kepada Al Jazeera.

‘’Pengepungan ini adalah kejahatan perang. Pemerintah secara kolektif menghukum masyarakat di wilayah tersebut karena kehadiran dari pejuang ‘musuh’.’’

PBB melaporkan pada Desember bahwa pemerintah Suriah dan milisi sekutu telah mengepung lebih dari 181.000 orang di wilayah pinggiran kota Damaskus, termasuk Darayya dan Ghouta, serta Zabadani, dekat perbatasan Lebanon.

Secara terpisah, kelompok Islamic State of Iraq and the Levant (ISIL) telah melakukan pengepungan terhadap lebih dari 200.000 orang warga Deiz Az Zor di wilayah timur Suriah.

“’Mengepung warga sipil Suriah adalah sesuatu yang salah, siapapun pelakunya,’’ Nashashibi mengatakan pada Al Jazeera.

Juliette Touma, seorang juru bicara UNICEF mengatakan bahwa kurangnya akses menyulitkan pengiriman bantuan pangan pada kelompok-kelompok yang bersangkutan.

‘’Itu ada wilayah-wilayah yang telah dikepung oleh pihak-pihak yang berkonflik,’’ dia berbicara pada Al Jazeera.

‘’Kita tidak bisa hanya menuduh satu pihak yang bertanggung jawab karena terdapat lebih dari satu pihak dalam konflik yang terlibat di berbagai pengepungan.’’

Selain itu dalam berjuang untuk mendapatkan makanan dan obat-obatan, Touma mengatakan, wilayah yang terkena efek juga terdampak gangguan lain, seperti kurangnya, kebutuhan dasar, seperti listrik dan pendidikan.

Selanjutnya, kata dia, masyarakat yang dikelompokkan sebagai kelompok yang terkepung tidak hanya putus asa karena kurang kebutuhan kemanusiaan.

‘’Akibat dari perang yang berkecamuk dan meningkatnya kekerasan, terdapat lebih dari 4.5 juta hidup di wilayah yang dikategorikan oleh PBB sebagai ‘’wilayah yang sulit dicapai,’’ kata Touma, dia juga menambahkan bahwa setengah dari jumlah itu adalah anak-anak.[Aljazeera]


Blog, Updated at: 08.01.00
Comments
0 Comments

0 komentar:

Poskan Komentar

Aspirasi Anda